Sidebar Ads

LightBlog

Breaking

LightBlog

Kamis, 12 Juni 2014

GoodBye Teens Wellcome Twenty

Beberapa menit yang lalu tepat 20 tahun aku hidup di dunia ini,,

Bukannya so’ jadi melankolis dan sebagainya, tapi aku berharap lewat tulisan ini aku bisa membaca dan kembali mengenang saat ini. Setiap kali aku merasa jatuh dan mengeluh Tulisan ini bisa Menyadarkanku dari apa dan untuk apa semua ini dimulai.
Ulang tahun? Hampir semua orang menjadikan hari itu, hari yang special untuk mereka. Bahkan tak sedikit yang rela mengeluarkan banyak biaya untuk merayakannya. Ga ada yang salah sih, mungkin itu salah satu bentuk syukur mereka.

Ultah Ku?
Seperti tahun tahun sebelumnya, ga ada yang special banget sih. Semuanya berlalu biasa aja. Ga tau sih besok kaya gimana. Tapi  aku juga ga terlalu berharap hari ini menjadi sesuatu yang heboh yang semua orang harus bereaksi untuk itu. Cukup doa dari keluarga dan lingkungan dekat aja.
Karena buat aku.. bukannya ulang tahun itu adalah pengurangan umur? Bayangkan jika kita ditakdirkan hidup 70 tahun, dan sekarang berumur 20 tahun maka sisa hidup kita tinggal 50 tahun kan. Setiap hari makin berkurang dan terus berkurang. Makanya aku lebih suka untuk mengevaluasi kehidupan yang telah berjalan selama ini..

Selama 20 tahun ini..
Aku masih belum bisa mencapai impianku. Menjadi pengusaha muda, mandiri dan memiliki penghasilan dari usaha pribadi. Seperti beberapa pengusaha muda yang ku kenal di antarnya Hamzah Izzulhaq, Yasa Singgih yang bahkan lebih muda dari ku namun ia sudah menjadi pengusaha.

Belum banyak yang berubah sejauh ini, target target yng ingin ku capai belum seluruhnya tercapai. Aku sadari, aku masih belum pada track yang benar, aku belum konsisten dalam memegang komitmen pada suatu usaha. Hingga tanpa ku sadari aku hanya berpindah dari satu usaha ke usaha lain. Sebelum usaha itu memberikan hasil.

Aku benci saat dihadapkan dengan pilihan yang tidak ideal. Saat keduanya terasa sama sama benar ? Atau bahkan keduanya terlihat sama sama salah? Ketika logika dan hatiku memilih jalan yang berbeda. Membuatku tak mengerti dan tak mampu lagi berpikir. Dan akhirnya memutuskan suatu jalan, yang kadang sampai saat ini masih ku ragu. Apakah ini yang terbaik?

Tanpa sadar waktu terus berputar dan bergulir dan tak ingin menungguku terbangun dari kebingungan. Mau tidak mau akupun harus terus berjalan dan mengambil salah satu dari pilihan pilihan ini.

Padahal di Suatu Tempat ada orang orang yang menantiku dan ingin segera melihatku di puncak kesuksesan..

Ayah
Ibu
Dan Adikku

Mereka adalah motivasi terbesarku untuk sukses. Masih teringat jelas saat untuk ke sekian kalinya aku menolak saran mereka, saat orang tua ku membujuk ku untuk mencari pekerjaan selepas lulus SMA.

Namun aku terus bersikeras ingin membuka usaha.  Sampai akhirnya akupun luluh dan menuruti mereka tapi mereka pun membiarkanku memilih tempat pekerjaan mana yang kusuka.

Akupun mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan usaha. Menjadi karyawan sekaligus mitra dari sebuah usaha yang baru dirintis. Seorang pengusaha mengajakku untuk membangun usaha kuliner yang baru ia rintis. Namanya juga usaha baru, pendapatannya pun belum seberapa dan tidak pasti.

Namun perjalanan saat itu membuatku semakin sadar betapa orang tua ku menyayangiku. Kerja keras membangun sebuah usaha mulai kurasakan. Ketika pagi hingga malam hari bekerja demi mencari uang penghidupan untuk keluarga.

Ayah..
Aku teringat ayahku, Dia seorang  pedagang buah dengan gerobak keliling. Sudah lebih dari 20 tahun ia berjualan itu. Dan entah apa yang menutupi hatiku saat aku masih duduk di bangku sekolah dan belum terpisah dari mereka saat ini.

Aku selalu melihat dia setiap shubuh sudah berangkat ke pasar berbelanja buah yang akan dijual hari ini. Jam 6 hingga stengah 9 pagi dia mengupas dan membuat bumbu. Dan bodohnya aku waktu itu, aku malas sekali membantu dia. Dan dia pun tak pernah memaksaku untuk membantunya.

Jam 9 pagi dia mulai berangkat mendorong gerobak buahnya. Dia berkeliling berjualan tak kurang dari 15 km setiap harinya. Lalu biasanya pulang petang ketika adzan magrib jika jualan sepi. Jika jualannya ramai dia biasa pulang lebih cepat. Bodohnya aku tak pernah mengerti wajah lelahnya. Sehingga seringkali aku malah membuat masalah di rumah, entah itu bertengkar dengan adik, berisik, malas disuruh dan sebagainya yang membuatnya tak bisa beristirahat dengan nyaman.

Masih teringat setiap kali dia menyuruhku memijat badannya terutama kakinya. Tak pernah waktu itu aku lakukan dengan senang hati. Selalu karena terpaksa ataupun harus di beri uang jajan. Ya Ampuun Anak Macam apa aku ini?
Dan kini, yang semakin membuat hatiku teriris ketika mengingatnya adalah, Tubuh ayahku yang mulai menua, tenaganya mulai berkurang, dan yang paling ku takutkan adalah tangannya. Hampir setiap hari mengupas buah. Membuat tangannya mulai iritasi dari cairan getah, dia mulai sering mengeluh kulit dan kukunya perih. Tangan yang selama 20 tahun ini memberikan penghidupan untuk ku.

Ayah..
Dialah orang yang pertama mendukungku untuk menjadi pengusaha. Aku tahu dia memiliki harapan besar untukku. Aku tahu alasan dia tidak pernah memaksaku untuk membantunya bekerja adalah agar aku focus belajar. Aku tahu bahwa dia ingin aku menjadi orang yang berhasil. Dan memang aku lihat senyum yang lebar selalu tersirat dari wajahnya ketika mengetahui prestasiku di sekolah yang Alhamdulilah waktu itu selalu memuaskannya. Hingga apapun yang kubutuhkan untuk sekolah ia selalu penuhi. Bahkan yang baru aku tahu adalah dia pernah merelakan tabungannya untuk merenovasi rumah untuk membelikanku laptop yang saat ini aku pakai menulis tulisan ini.

Kembali akupun teringat dia selalu percaya terhadap apa yang aku lakukan. Waktu aku memerlukan uang untuk usaha pengadaan barang barang pramuka yang aku jual ke siswa baru. Dan bahkan modal uang yang cukup besar waktu itu untuk masuk ke sebuah bisnis MLM. Meski dia selalu mencecarku dengan beragam pertanyaan, namun pada akhirnya ia selalu memberi, memberi dan memberi apa yang aku mau.

“Ya Allah, Terima Kasih kau telah berikan Malaikat itu Untukku. Berikan Ayahku Kesehatan, Jaga Dia dalam lindunganmu, Mudahkan Rezekinya Lancarkan Usahanya. Beri Dia Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat. Amiiiin”

Ibuku..
Seorang yang selalu menjadi peneduhku. Menjadi mediator yang menyambungkan keinginanku dan pandangan ayahku ketika apa yang kami inginkan bersebrangan. Meski hubunganku dengan orang tua tak semesra teman temanku yang lainnya yang bisa seperti teman dekat. Tapi ku tahu kasih sayangnya begitu kuat.

Dia seorang yang cerewet, apalagi kalau marah. Masihku ingat ketika aku memekakan telingaku, dan mengalihkan pikiranku saat dia marah dan ngomel ngomel. Nyuruh bersih bersih, belanja, itu ini dan sebagainya. Tapi aku bersyukur sampai saat ini dia masih seperti itu. Setiap kali kami berbicara di telepon ada saja yang ia ceritakan dan pesannya yang selalu ku ingat “Makan yang banyak, jangan lupa sholat, shubuh jangan kesiangan” Itu uterus kalo nelpon.

Tapi dari ratusan kali dia marah. Aku masih teringat dan selalu takut jika kemarahannya yang saat itu terulang lagi. Saat dimana kemarahannya tak lagi bisa diucapkan dengan lisan. Saat kemarahannya itu hanya tersimpan dalam diam. Aku bisa merasakan kekecewaannya. Saat dimana aku terbawa emosi dan bersikeras tak ingin mencari pekerjaan. Yang mungkin saat itu menyakitinya.

Namun kebesaran hatinya, ia pun akhirnya merelakanku memilih jalanku sendiri. Aku tahu mungkin tak mudah baginya, disaat teman teman sebaya ku memiliki pekerjaan di suatu perusahaan atau pabrik. Pada umumnya memang anak muda di desa ku setelah lulus sekolah mereka merantau ke kota lalu bekerja. Mereka mendapatkan gaji yang tetap lalu mengirimkan sebagian gaji tersebut ke keluarga di desa.  Setiap ibu menceritkan kesuksesan anaknya dalam bekerja.

Dan mungkin untuk 2 tahun ini, aku belum bisa mengukir senyum di hatinya. Entah sepeti apa dia dikala orang tua lain membangga banggakan anaknya. Apakah dia membangga banggakan ku juga? Ataukah hanya diam dan bahkan malu?

Tapi di depanku ia selalu mencoba untuk tak pernah membahas hal itu, dan tak pernah berkurang sedikitpun perhatian dan kasih sayangnya untukku.

“Maaf ya mah,, mungkin saat ini aa masih belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan”

“Ya Allah, Berikan kesehatan dan kebahagiaan untuk Ibuku. Pinjami aku ilmumu, hartamu, duniamu. Mampukan aku untuk bisa membahagiakan mereka. Berikan kerukunan dan kasih sayang di keluarga kami. Amiiiiin”

Ya Ampuuun..  dari awal aku hanya mengeluh,,
Apa aku buta? Apa aku hatiku sudah tak lagi merasa?

Hingga tak menyadari betapa banyak nikmat yang telah Tuhan berikan selama aku hidup. Selama hampir 20 tahun ini. Keluarga yang rukun dan selalu mendukung. Lingkungan teman yang solid dan positif. Kesehatan yang masih bugar hingga saat ini. Berbagai kesempatan,  ilmu dan pengalaman yang telah ku lewati hingga saat ini.

Terlepas dari berbagai macam target dan impian yang belum tercapai. Tapi sebenarnya yang telah kulewati memang adalah hal yang pantas aku dapat dan aku butuhkan.

“Ya Allah Astagfirullah, wal hamdulillah wa la ilaahha ilallah huallohu akbar. Ya Allah Maafkan Segala Dosa dosa yang telah kulakukan selama ini. Terima Kasih atas limpahan nikmat dan rahmat yang telah Kau Beri selama ini. Ya Allah Yang Maha Segalanya.. jika esok Engkau masih berkenan memberikanku hidup. Ku Mohon, Mampukan Aku dengan Ilmu-Mu, Dunia-Mu, Harta-Mu, Kekuasaan-Mu menjadi orang yang sukses di dunia usaha yang ku geluti sehingga dengan IzinMu aku bisa membahagiakan dan memberikan manfaaat yang sebanyak banyaknya untuk kedua orang tuaku, saudaraku, sahabatku dan sesamaku. Amiiiiin”

>>Goodbye Teen Wellcome Tweenty<<
Harus lebih dekat dengan Allah
Harus lebih sehat
Harus lebih semangat
Harus lebih dewasa
Harus lebih Bahagia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox