Beberapa menit yang lalu tepat 20 tahun aku hidup di dunia ini,,
Bukannya so’ jadi melankolis dan sebagainya, tapi aku
berharap lewat tulisan ini aku bisa membaca dan kembali mengenang saat ini. Setiap
kali aku merasa jatuh dan mengeluh Tulisan ini bisa Menyadarkanku dari apa dan
untuk apa semua ini dimulai.
Ulang tahun? Hampir semua orang menjadikan hari itu, hari
yang special untuk mereka. Bahkan tak sedikit yang rela mengeluarkan banyak
biaya untuk merayakannya. Ga ada yang salah sih, mungkin itu salah satu bentuk
syukur mereka.
Ultah Ku?
Seperti tahun tahun sebelumnya, ga ada yang special banget
sih. Semuanya berlalu biasa aja. Ga tau sih besok kaya gimana. Tapi aku juga ga terlalu berharap hari ini menjadi
sesuatu yang heboh yang semua orang harus bereaksi untuk itu. Cukup doa dari
keluarga dan lingkungan dekat aja.
Karena buat aku.. bukannya ulang tahun itu adalah
pengurangan umur? Bayangkan jika kita ditakdirkan hidup 70 tahun, dan sekarang
berumur 20 tahun maka sisa hidup kita tinggal 50 tahun kan. Setiap hari makin
berkurang dan terus berkurang. Makanya aku lebih suka untuk mengevaluasi
kehidupan yang telah berjalan selama ini..
Selama 20 tahun ini..
Aku masih belum bisa mencapai impianku. Menjadi pengusaha
muda, mandiri dan memiliki penghasilan dari usaha pribadi. Seperti beberapa
pengusaha muda yang ku kenal di antarnya Hamzah Izzulhaq, Yasa Singgih yang
bahkan lebih muda dari ku namun ia sudah menjadi pengusaha.
Belum banyak yang berubah sejauh ini, target target yng
ingin ku capai belum seluruhnya tercapai. Aku sadari, aku masih belum pada
track yang benar, aku belum konsisten dalam memegang komitmen pada suatu usaha.
Hingga tanpa ku sadari aku hanya berpindah dari satu usaha ke usaha lain. Sebelum
usaha itu memberikan hasil.
Aku benci saat dihadapkan dengan pilihan yang tidak ideal. Saat
keduanya terasa sama sama benar ? Atau bahkan keduanya terlihat sama sama salah?
Ketika logika dan hatiku memilih jalan yang berbeda. Membuatku tak mengerti dan
tak mampu lagi berpikir. Dan akhirnya memutuskan suatu jalan, yang kadang
sampai saat ini masih ku ragu. Apakah ini yang terbaik?
Tanpa sadar waktu terus berputar dan bergulir dan tak ingin
menungguku terbangun dari kebingungan. Mau tidak mau akupun harus terus
berjalan dan mengambil salah satu dari pilihan pilihan ini.
Padahal di Suatu Tempat ada orang orang yang menantiku dan
ingin segera melihatku di puncak kesuksesan..
Ayah
Ibu
Dan Adikku
Mereka adalah motivasi terbesarku untuk sukses. Masih
teringat jelas saat untuk ke sekian kalinya aku menolak saran mereka, saat
orang tua ku membujuk ku untuk mencari pekerjaan selepas lulus SMA.
Namun aku terus bersikeras ingin membuka usaha. Sampai akhirnya akupun luluh dan menuruti mereka tapi mereka pun membiarkanku memilih tempat pekerjaan mana yang kusuka.
Namun aku terus bersikeras ingin membuka usaha. Sampai akhirnya akupun luluh dan menuruti mereka tapi mereka pun membiarkanku memilih tempat pekerjaan mana yang kusuka.
Akupun mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan usaha.
Menjadi karyawan sekaligus mitra dari sebuah usaha yang baru dirintis. Seorang
pengusaha mengajakku untuk membangun usaha kuliner yang baru ia rintis. Namanya
juga usaha baru, pendapatannya pun belum seberapa dan tidak pasti.
Namun perjalanan saat itu membuatku semakin sadar betapa
orang tua ku menyayangiku. Kerja keras membangun sebuah usaha mulai kurasakan. Ketika
pagi hingga malam hari bekerja demi mencari uang penghidupan untuk keluarga.
Ayah..
Aku teringat ayahku, Dia seorang pedagang buah dengan gerobak keliling. Sudah
lebih dari 20 tahun ia berjualan itu. Dan entah apa yang menutupi hatiku saat
aku masih duduk di bangku sekolah dan belum terpisah dari mereka saat ini.
Aku selalu melihat dia setiap shubuh sudah berangkat ke
pasar berbelanja buah yang akan dijual hari ini. Jam 6 hingga stengah 9 pagi
dia mengupas dan membuat bumbu. Dan bodohnya aku waktu itu, aku malas sekali
membantu dia. Dan dia pun tak pernah memaksaku untuk membantunya.
Jam 9 pagi dia mulai berangkat mendorong gerobak buahnya.
Dia berkeliling berjualan tak kurang dari 15 km setiap harinya. Lalu biasanya pulang
petang ketika adzan magrib jika jualan sepi. Jika jualannya ramai dia biasa
pulang lebih cepat. Bodohnya aku tak pernah mengerti wajah lelahnya. Sehingga
seringkali aku malah membuat masalah di rumah, entah itu bertengkar dengan
adik, berisik, malas disuruh dan sebagainya yang membuatnya tak bisa
beristirahat dengan nyaman.
Masih teringat setiap kali dia menyuruhku memijat badannya
terutama kakinya. Tak pernah waktu itu aku lakukan dengan senang hati. Selalu karena
terpaksa ataupun harus di beri uang jajan. Ya Ampuun Anak Macam apa aku ini?
Dan kini, yang semakin membuat hatiku teriris ketika
mengingatnya adalah, Tubuh ayahku yang mulai menua, tenaganya mulai berkurang,
dan yang paling ku takutkan adalah tangannya. Hampir setiap hari mengupas buah.
Membuat tangannya mulai iritasi dari cairan getah, dia mulai sering mengeluh kulit
dan kukunya perih. Tangan yang selama 20 tahun ini memberikan penghidupan untuk
ku.
Ayah..
Dialah orang yang pertama mendukungku untuk menjadi
pengusaha. Aku tahu dia memiliki harapan besar untukku. Aku tahu alasan dia
tidak pernah memaksaku untuk membantunya bekerja adalah agar aku focus belajar.
Aku tahu bahwa dia ingin aku menjadi orang yang berhasil. Dan memang aku lihat
senyum yang lebar selalu tersirat dari wajahnya ketika mengetahui prestasiku di
sekolah yang Alhamdulilah waktu itu selalu memuaskannya. Hingga apapun yang
kubutuhkan untuk sekolah ia selalu penuhi. Bahkan yang baru aku tahu adalah dia
pernah merelakan tabungannya untuk merenovasi rumah untuk membelikanku laptop
yang saat ini aku pakai menulis tulisan ini.
Kembali akupun teringat dia selalu percaya terhadap apa yang
aku lakukan. Waktu aku memerlukan uang untuk usaha pengadaan barang barang
pramuka yang aku jual ke siswa baru. Dan bahkan modal uang yang cukup besar
waktu itu untuk masuk ke sebuah bisnis MLM. Meski dia selalu mencecarku dengan
beragam pertanyaan, namun pada akhirnya ia selalu memberi, memberi dan memberi
apa yang aku mau.
“Ya Allah, Terima Kasih kau telah berikan Malaikat itu
Untukku. Berikan Ayahku Kesehatan, Jaga Dia dalam lindunganmu, Mudahkan
Rezekinya Lancarkan Usahanya. Beri Dia Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat.
Amiiiin”
Ibuku..
Seorang yang selalu menjadi peneduhku. Menjadi mediator yang
menyambungkan keinginanku dan pandangan ayahku ketika apa yang kami inginkan
bersebrangan. Meski hubunganku dengan orang tua tak semesra teman temanku yang
lainnya yang bisa seperti teman dekat. Tapi ku tahu kasih sayangnya begitu
kuat.
Dia seorang yang cerewet, apalagi kalau marah. Masihku ingat
ketika aku memekakan telingaku, dan mengalihkan pikiranku saat dia marah dan
ngomel ngomel. Nyuruh bersih bersih, belanja, itu ini dan sebagainya. Tapi aku
bersyukur sampai saat ini dia masih seperti itu. Setiap kali kami berbicara di
telepon ada saja yang ia ceritakan dan pesannya yang selalu ku ingat “Makan yang
banyak, jangan lupa sholat, shubuh jangan kesiangan” Itu uterus kalo nelpon.
Tapi dari ratusan kali dia marah. Aku masih teringat dan
selalu takut jika kemarahannya yang saat itu terulang lagi. Saat dimana kemarahannya
tak lagi bisa diucapkan dengan lisan. Saat kemarahannya itu hanya tersimpan
dalam diam. Aku bisa merasakan kekecewaannya. Saat dimana aku terbawa emosi dan
bersikeras tak ingin mencari pekerjaan. Yang mungkin saat itu menyakitinya.
Namun kebesaran hatinya, ia pun akhirnya merelakanku memilih
jalanku sendiri. Aku tahu mungkin tak mudah baginya, disaat teman teman sebaya
ku memiliki pekerjaan di suatu perusahaan atau pabrik. Pada umumnya memang anak
muda di desa ku setelah lulus sekolah mereka merantau ke kota lalu bekerja. Mereka
mendapatkan gaji yang tetap lalu mengirimkan sebagian gaji tersebut ke keluarga
di desa. Setiap ibu menceritkan
kesuksesan anaknya dalam bekerja.
Dan mungkin untuk 2 tahun ini, aku belum bisa mengukir
senyum di hatinya. Entah sepeti apa dia dikala orang tua lain membangga
banggakan anaknya. Apakah dia membangga banggakan ku juga? Ataukah hanya diam
dan bahkan malu?
Tapi di depanku ia selalu mencoba untuk tak pernah membahas
hal itu, dan tak pernah berkurang sedikitpun perhatian dan kasih sayangnya
untukku.
“Maaf ya mah,, mungkin saat ini aa masih belum bisa menjadi
anak yang bisa dibanggakan”
“Ya Allah, Berikan kesehatan dan kebahagiaan untuk Ibuku.
Pinjami aku ilmumu, hartamu, duniamu. Mampukan aku untuk bisa membahagiakan
mereka. Berikan kerukunan dan kasih sayang di keluarga kami. Amiiiiin”
Ya Ampuuun.. dari
awal aku hanya mengeluh,,
Apa aku buta? Apa aku hatiku sudah tak lagi merasa?
Hingga tak menyadari betapa banyak nikmat yang telah Tuhan
berikan selama aku hidup. Selama hampir 20 tahun ini. Keluarga yang rukun dan
selalu mendukung. Lingkungan teman yang solid dan positif. Kesehatan yang masih
bugar hingga saat ini. Berbagai kesempatan,
ilmu dan pengalaman yang telah ku lewati hingga saat ini.
Terlepas dari berbagai macam target dan impian yang belum
tercapai. Tapi sebenarnya yang telah kulewati memang adalah hal yang pantas aku
dapat dan aku butuhkan.
“Ya Allah Astagfirullah, wal hamdulillah wa la ilaahha
ilallah huallohu akbar. Ya Allah Maafkan Segala Dosa dosa yang telah kulakukan
selama ini. Terima Kasih atas limpahan nikmat dan rahmat yang telah Kau Beri
selama ini. Ya Allah Yang Maha Segalanya.. jika esok Engkau masih berkenan memberikanku
hidup. Ku Mohon, Mampukan Aku dengan Ilmu-Mu, Dunia-Mu, Harta-Mu, Kekuasaan-Mu menjadi
orang yang sukses di dunia usaha yang ku geluti sehingga dengan IzinMu aku bisa
membahagiakan dan memberikan manfaaat yang sebanyak banyaknya untuk kedua orang
tuaku, saudaraku, sahabatku dan sesamaku. Amiiiiin”
>>Goodbye Teen Wellcome Tweenty<<
Harus lebih dekat dengan Allah
Harus lebih sehat
Harus lebih semangat
Harus lebih dewasa
Harus lebih Bahagia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar