Sidebar Ads

LightBlog

Breaking

LightBlog

Selasa, 10 Desember 2013

Rumah Untuk Tukang Kayu


Alkisah di suatu kota hiduplah seorang tukang kayu tua. Ia bermaksud untuk pensiun dari pekerjaannya disebuah perusahaan Jasa Konstruksi. Dia bekerja disana hampir 20 tahun lamanya. Tentu saja dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya itu. Tukang Kayu itu akan kehilangan penghasilan utamanya. Namun tekadanya sudah bulat, ia ingin segera beristirahat dan menghabiskan masa tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan dan keluarganya di rumah kecil yang ia sewa berpuluh tahun.
Tukang Kayu itu pun menyampaikan keinginannnya tersebut kepada sang pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan tukang kayu seorang pekerja terbaik dan telah mengabdikan dirinya untuk perusahaan sekian lama harus berhenti. Si pemilik kemudian memohon untuk terakhir kalinya pada Tukang Kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Karena sudah sangat dipercaya Pelilik perusahaan menyerahkan sepenuhnya kepada tukang kayu itu. Desain, bahan, pekerja semua diserahkan atas kendali si Tukang Kayu itu.
Si Tukang Kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi sang pemilik perusahaan. Tapi dalam hatinya ia merasa terpaksa karean ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dan ia pun tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam membuat rumah seperti biasanya bahkan ia hanya menggunakan bahan bahan konstruksi sekedarnya.
Akhirnya Selesailah rumah yang diminta. Namun hasilnya bukanlah sebuah rumah yang terbaik. Sungguh sayang dia mengakhiri karirnbya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Tukang kayu tidak peduli apa penilaian pemilik perusahaan, pikirnya dia meskipun dia berbuat yang terbaik tak kan ada kenaikan karir lagi karena usianya sudah lanjut.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, tukang kayu memberikan kunci rumah itu kepada pemilik perusahaan itu. Namun selang seketika si pelilik perusahaan memberikan kembali kunci rumah tersebut kepada si Tukang Kayu.
“Ini adalah rumahmu, hadiah dari kami” Kata si pemilik perusahaan. Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Sungguh malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa seungguhnya ia mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, tentu ia akan mengerjakannya dengan sangat sunguh sungguh. Dengan ratap hati kecewa ia terima kunci itu. Tangannya bergetar dan persendian kakinya serasa dilolosi. Ia jatuh terkuali. Setelah sadar kini si Tukang Kayu harus puas dengan tinggal di rumah yang ia buat sendiri.
Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Seringkali banyak yang membangun kehidupan dengan  cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadaranbya ketimbang mengupayakan yang lebih baik. Di Akhir perjalanan kita akan selalu terkejjut melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda dari yang kita lakukan hari ini.
Saya dan Anda adalah si Tukang kayu yang sedang membangun rumah. Setiap hari kita akan mendesain, membuat pondasi, memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap, mencat dan menata rumah kita sebaik baiknya.
Mari kita selsesaikan ‘rumah’ ini dengan sebaik baiknya seolah olah hanya mengerjakannya sekali seumur hidup. Biatpun kita hanya hidup satu hari. Maka dari satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kemenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox