Alkisah di suatu kota hiduplah seorang tukang kayu tua. Ia bermaksud untuk pensiun dari pekerjaannya disebuah perusahaan Jasa Konstruksi. Dia bekerja disana hampir 20 tahun lamanya. Tentu saja dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya itu. Tukang Kayu itu akan kehilangan penghasilan utamanya. Namun tekadanya sudah bulat, ia ingin segera beristirahat dan menghabiskan masa tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan dan keluarganya di rumah kecil yang ia sewa berpuluh tahun.
Tukang Kayu itu pun menyampaikan keinginannnya tersebut
kepada sang pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan tukang
kayu seorang pekerja terbaik dan telah mengabdikan dirinya untuk perusahaan
sekian lama harus berhenti. Si pemilik kemudian memohon untuk terakhir kalinya
pada Tukang Kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Karena
sudah sangat dipercaya Pelilik perusahaan menyerahkan sepenuhnya kepada tukang
kayu itu. Desain, bahan, pekerja semua diserahkan atas kendali si Tukang Kayu
itu.
Si Tukang Kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi sang
pemilik perusahaan. Tapi dalam hatinya ia merasa terpaksa karean ingin segera
berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dan ia pun tidak mengeluarkan
kemampuan terbaiknya dalam membuat rumah seperti biasanya bahkan ia hanya
menggunakan bahan bahan konstruksi sekedarnya.
Akhirnya Selesailah rumah yang diminta. Namun hasilnya
bukanlah sebuah rumah yang terbaik. Sungguh sayang dia mengakhiri karirnbya
dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Tukang kayu tidak peduli apa
penilaian pemilik perusahaan, pikirnya dia meskipun dia berbuat yang terbaik
tak kan ada kenaikan karir lagi karena usianya sudah lanjut.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang
dimintanya, tukang kayu memberikan kunci rumah itu kepada pemilik perusahaan
itu. Namun selang seketika si pelilik perusahaan memberikan kembali kunci rumah
tersebut kepada si Tukang Kayu.
“Ini adalah rumahmu, hadiah dari kami” Kata si pemilik
perusahaan. Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Sungguh malu dan menyesalnya.
Seandainya saja ia mengetahui bahwa seungguhnya ia mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, tentu ia akan mengerjakannya dengan sangat sunguh sungguh.
Dengan ratap hati kecewa ia terima kunci itu. Tangannya bergetar dan persendian
kakinya serasa dilolosi. Ia jatuh terkuali. Setelah sadar kini si Tukang Kayu
harus puas dengan tinggal di rumah yang ia buat sendiri.
Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Seringkali
banyak yang membangun kehidupan dengan
cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadaranbya ketimbang
mengupayakan yang lebih baik. Di Akhir perjalanan kita akan selalu terkejjut
melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup dalam sebuah
rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula kita
akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda dari yang kita lakukan
hari ini.
Saya dan Anda adalah si Tukang kayu yang sedang membangun
rumah. Setiap hari kita akan mendesain, membuat pondasi, memukul paku, memasang
papan, mendirikan dinding dan atap, mencat dan menata rumah kita sebaik
baiknya.
Mari kita selsesaikan ‘rumah’ ini dengan sebaik baiknya
seolah olah hanya mengerjakannya sekali seumur hidup. Biatpun kita hanya hidup
satu hari. Maka dari satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan
kemenangan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar